HEMATOLOGI II
FIBRINOLISIS DAN ANTIFIBRINOLITIKA
A. FIBRINOLISIS
Fibrinolitik/trombolitik bekerja
sebagai aktivator plasminogen untuk membentuk plasmin, yang mendegradasi fibrin
dan kemudian memecah trombus. Manfaat obat trombolitik yaitu untuk pengobatan
infark miokard/serangan jantung. Sistem ini pada dasarnya berkebalikan
dengan sistem koagulasi. Koagulasi menciptakan bekuan darah untuk mencegah
kebocoran atau perdarahan sedangkan sistem fibrinolitik bekerja berkebalikan
untuk memastikan peredaran darah berjalan lancar. Salah satu contoh obat
fibrinolitik adalah alteplase dengan merek dagang Actilyse.
Alteplase adalah obat yang digunakan untuk memecah gumpalan darah. Gumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah arteri sering menjadi penyebab serangan jantung dan stroke. Alteplase tersedia dalam bentuk suntik dan hanya boleh digunakan berdasarkan resep dokter.
Farmakologi
Actilyse digunakan untuk pengobatan trombolitik pada infark miokard akut dan emboli paru akut dengan ketidakstabilan hemodinamik. Tidak ada uji klinis mengenai mortalitas dan morbiditas yang terkait dengan emboli paru), pengobatan trombolitik pada stroke iskemik akut (pengobatan hanya boleh dilakukan dalam waktu 3 jam setelah timbulnya gejala stroke dan setelah dikeluarkannya perdarahan intrakranial dengan teknik pencitraan yang tepat).
Farmakodinamik
Obat ini bekerja
dengan cara mengaktifkan plasminogen untuk memecah fibrin pada gumpalan darah.
Obat ini bisa digunakan untuk memecah gumpalan darah pada pasien serangan
jantung, stroke, atau emboli paru.
Interaksi Obat
- Risiko perdarahan meningkat jika digunakan bersamaan dengan derivat coumarin, antikoagulan oral, penghambat agregasi trombosit, dan heparin yang tidak terfragmentasi.
- Risiko reaksi anafilaksis meningkat jika digunakan bersamaan dengan ACE inhibitor (seperti Captopril, Enalapril).
- Penggunaan bersama dengan glikoil trinitrat injeksi dapat menyebabkan terganggunya trombolisis.
Farmakokinetik
Dosis yang diberikan untuk pasien infark miocardial yang pengobatannya dapat dimulai dalam waktu 6 jam setelah onset gejala:
- Dosis awal: diberikan dosis 15 mg melalui injeksi intravena (pembuluh darah), kemudian diberikan dosis 50 mg melalui infus selama 30 menit pertama, dilanjutkan dengan dosis 35 mg melalui infus selama 60 menit sampai maksimal 100 mg.
- Pasien dengan berat badan < 65 kg: awalnya diberikan dosis 15 mg melalui injeksi intravena (pembuluh darah) dan dosis 0,75 mg/kg berat badan selama 30 menit (maksimal 50 mg), dilanutkan dengan dosis 0,5 mg / kg berat badan melalui infus selama 60 menit (maksimal 35 mg).
- Regimen dosis 3 jam: diberikan dosis 10 mg melalui injeksi intravena (pembuluh darah), kemudian diberikan dosis 50 mg melalui infus selama 1 jam, dilanjutkan dengan dosis 10 mg melalui infus selama 30 menit sampai dosis maksimal 100 mg selama 3 jam. Maksimal: 1,5 mg/kg berat badan.
B. ANTIFIBRINOLITIKA
Antifibrinolitik merupakan obat yang digunakan sebagai terapi yang dapat
mencegah terjadinya risiko re-bleeding. Golongan obat ini
bekerja menghambat aktivasi plasminogen menjadi plasmin, mencegah break-up dari
fibrin dan menjaga stabilitas menggumpal. Jenis/contoh obat antifibrinolitik
antara lain asam traneksamat dan asam aminokaproat.
Asam Traneksamat
Antifibrinolitik
asam amino dan digunakan dalam pengobatan perdarahan. Efek
samping obat ini yaitu kulit pucat, kesulitan bernafas, perdarahan atau memar tidak
biasa dan rasa lelah
Farmakodinamik
Bekerja pada proses
pembekuan darah dan merupakan derivat asam amino lisin yang bekerja menghambat
proses fibrinolisis. Asam amino lisin yang memiliki afinitas tinggi akan
menempel pada reseptor plasminogen, sehingga plasmin tidak dapat diaktifkan.
Akibatnya proses degradasi fibrin dan faktor pembekuan lainnya oleh plasmin
tidak terjadi. Terjadi interaksi yang disebabkan
efek antagonis dengan trombolitik dan meningkatkan resiko trombosis dengan
konsentrat kompleks faktor IX atau konsentrat koagulan anti-inhibitor.
Farmakokinetik
- Absorpsi : pada saluran gastrointestinal
- Bioavailabilitas : sekitar 45% (oral)
- Waktu untuk konsentrasi plasma puncak : sekitar 1-5 jam namun biasanya 2,5 jam setelah pemberian oral
- Distribusi : tersebar luas ke seluruh tubuh dan melintasi plasenta serta memasuki ASI
- Volume distribusi : 9-12 liter
- Pengikatan protein plasma : sekitar 3% terutama pada plasminogen
- Ekskresi : melalui urin (>95% sebagai obat tidak berubah)
- Waktu paruh eliminasi : sekitar 2-11 jam
- Dosis: per oral untuk fibrinolisis lokal 1-1,5 g (atau 15-15 mg/ kg) 2-3 kali sehari; dengan infus intravena lambat (tidak melebihi 100 mg/ menit), untuk fibrinolisis lokal 0,5-1 g 2-3 kali sehari, fibrinolisis umum 1 g (atau 15 mg/ kg) setiap 6-8 jam; dengan infus intravena kontinyu, untuk fibrinolisis lokal setelah pemberian awal dengan injeksi intravena maka diberikan 25-50 mg/ kg selama 24 jam.
PERMASALAHAN
- Apa Cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan bioavailabilitas obat asam traneksamat?
- Mengapa waktu pemberian obat Actilyse sangat diperhatiakan pada pasien penderita stroke infark?
DAFTAR PUSTAKA
Noviani, N. dan V. Nurilawati. 2017. Farmakologi. Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Duarsa, G. W.K. 2020. LUTS, Prostatitis, BPH dan Kanker Prostat :
Peran Inflamasi dan Tata Laksana. Airlangga University Press :
Surabaya.


Terumakasih❤️
BalasHapusmakasih sis,artikelnya lengkap 🙏🏻
BalasHapusTerimakasih❤️
Hapus